Camera Smartphone Terbaik, Seperti Apa?

7 Apr 2014

2e3d38d27fc33daec4985cceab086eea_htc

Saya belum pernah melihat sebuah smartphone yang tidak dilengkapi dengan camera. Camera seolah memang tidak terpisahkan dari sosok smartphone. Persisnya sosok pengguna smartphone umumnya suka memotret.

Pabrikan smartphone kini berlomba adu bagus dalam penyematan teknologi camera dalam setiap device yang ditawarkannya. Mega Pixel umumnya mudah dicerna pengguna awam sebagai standar ukur kualitas suatu kamera. Tak heran kini pabrikan-pabrikan ponsel berlomba-lomba menawarkan camera smartphone dengan resolusi tertinggi. Dalam lomba adu besar resolusi kamera ini, tersebutlah nama Nokia Asha, Nokia Lumia 1020, Samsung Galaxy S5, Sony Experia Z1, Oppo Find 7 dan lain-lain.

Menjadi pertanyaan saya adalah benarkah Pixel Count/resolusi MP suatu camera smartphone menjadi sangat dan paling menentukan?

Bila demikian mengapa Apple mempertahankan resolusi kamera iPhone 5s di angka 8 MP saja. Bahkan pabrikan smartphone Android asal Taiwan, HTC memasang camera di HTC One M8 hanya kamera beresolusi 4 MP?

Apple memang mempertahankan resolusi kamera di angka 8 MP. Apa yang diperbaiki oleh Apple adalah sensor size yang digunakan (1/3″), aperture atau bukaan lensa yang lebih lebar (menjadi 2,2 dari sebelumnya 2,4), dual tone flash, dan Image Signal Processing yang lebih baik.

HTC One (M8) menggunakan ukuran sensor dengan luas yang sama yang digunakan oleh iPhone 5s, yaitu 1/3″ namun dengan resolusi setengahnya yaitu 4 MP, berarti akan ada tiap pixel sensor lebih besar, yaitu sekitar 2 micro meter. Di atas kertas ini akan membuat sensor kamera lebih peka cahaya dan mampu menangkap dynamic range yang lebih lebar. Aperture Camera HTC One (M8) berukuran 2.0 atau satu f stop lebih lebar dari apa yang dipunyai iPhone 5s. HTC One (M8) mempunyai dua camera, satu camera untuk menangkap gambar, kamera yang satunya lagi digunakan konon untuk menangkap depth information, dynamic range dan lain-lain yang dikombinasikan dengan software Dua Cam effect yang tersemat. Sama dengan iPhone 5s, HTC One (M8) juga menggunakan dual tone flash.

Entah Anda, saya belum pernah mencetak di kertas foto-foto yang saya jepret dengan ponsel. Saat ini rasanya saya lebih suka dan lebih sering memotret dengan camera iPhone 5s dan camera ponsel Android dengan alasan kemudahan untuk membagikan hasil jepretan saya itu ke jejaring sosial seperti instagram, facebook, twitter, google+ ataupun email dengan terlebih dahulu sedikit menyuntingnya. Dibanding Camera SLR maupun Camera pocket, sependek pengalaman saya, Camera Smartphone paling jago dalam berkejaran dengan momen serta kemudahan untuk mengambil foto tanpa mendistraksi obyek hidup yang ingin saya potret. Di pasar atau di dalam angkot yang penuh orang-orang akan merasa terganggu dengan kamera yang saya arahkan, tetapi dengan ponsel di tangan saya, orang tidak akan pernah cepat menyadari menjadi obyek foto candid saya. Dengan smartphone saya bisa langsung mudah menyunting foto-foto yang ingin saya unggah ke jejaring sosial. Setidaknya saya akan me-resize foto menjadi 640 X 480 pixel untuk twitter, 1024 X 768 untuk facebook dan paling gede 2048 X 1536 atau 3,2 MP untuk diunggah ke Google+. Syukur-syukur saya bisa meng-crop, memperbaiki brightness, contrast dan tonal suatu foto biar makin percaya diri memamerkan jepretan-jepretan itu kepada khalayak rame.

Saya membutuhkaan foto final paling gede beresolusi 3,2 MP saja. Saya jadi ingat resolusi foto dari ponsel Sony Ericsson K810i yang beresolusi 3,2 MP sudah mencukupi untuk kebutuhan ini. Apa yang dihasilkan HTC One (M8) masih ada sedikit ruang untuk saya crop. Jepretan 8 MP dari iPhone 5s saya cukup digunakan setengah resolusinya. Kelegaan meng-crop foto tentu akan sangat bebas bisa saya menggunakan Sony Xperia Z1 berkamera 20.7 MP atau Galaxy S5 yang berkamera 13 MP. Ukuran MP yang lebih besar nampak bagi saya hanya sedikit berguna bila memerlukan cropping yang ekstrim yang mana ini jarang saya lakukan. Singkat kata, saya sendiri belum menemukan banyak manfaat dari MP yang sangat besar. Kecuali suatu saat saya perlu mencetak foto seukuran Baliho yang saya pikir pencetakan raksasa yang mahal lebih baik foto-foto pro dari kamera DSLR FX Full Frame.

Dari pengalaman pribadi saya mengambil foto dengan smartphone di berbagai lingkungan dan keadaan, rasanya yang membuat suatu ponsel bagus itu bila menyelesaikan beberapa hal ini.

Good Low Light Performance

Memperbaiki kualitas foto bilamana pencahayaan kurang ini, sekarang dicoba diatasi oleh pabrikan ponsel dengan aperture atau bukaan yang semakin lebar. Lihat saja sekarang di smartphone high end sudah banyak yang menggunakan f/2,2 dan f/2.0. Saya dengar malah ada yang mulai menggunakan f/1.9. Menaikan ISO memang cara lain yang populer. Dalam percobaan saya, iPhone 5s menggunakan ISO sampai 2500 bila cahaya sangat kurang. Resiko menaikan nilai ISO adalah menaikan noise secara signifikan yang belum bisa bagus diselesaikan dengan algoritma noise reduction. Menurunkan shutter speed akan membantu memperbaiki pencahayaan. Resikonya adalah blurr bila banyak obyek yang bergerak di dalam sebuah komposisi. Resiko Slow Shutter Speed ini di Nokia Lumia 1020 diatasi dengan IOS (Optical Image Stabilisation) dan di iPhone 5s dan HTC dicoba diatasi dengan Digital Image Processing meski hasilnya kurang optimal.

Wider Dynamic Range

Beberapa smartphone menawarkan mode HDR (High Dynamic Range) di camera nya. Namun baru beberapa saja yang fitur ini saya rasakan terlihat manfaatnya. Misalnya HDR di iPhone 5s. Beberapa cara yang digunakan oleh pabrikan ponsel untuk memperlebar rentang ini adalah dengan memperbesar ukuran pixel pada sensor camera.

Faster and Reliable Autofocus

Untuk memotret dengan smartphone, terkadang kita menunggu beberapa detik sampai camera menemukan focus yang tepat. Tidak jarang kita perlu melakukan tap focus untuk memberi tahu smartphone obyek yang mana yang seharusnya in focus dan mana yang out of focus. Tidak jarang pula smartphone tetep bodoh ketika sudah diberi tahu kemana seharusnya mengambil focus.

Smartphone umumnya menggunakan algoritma phase detection atau contrast detection. Ini menjadi masalah ketika obyek foto kita merupakan benda-benda yang kurang kontras. iPhone 5s saya seringkali gagal focus ketika saya gunakan untuk memotret macro dengan obyek kupu-kupu, bunga, ulat dan sejenisnya. Sampai-sampai untuk memotret obyek macro itu saya harus mengakali dengan mengambil fokus benda lain di sekitar obyek yang ingin saya potret yang mempunyai pencahayaan mirip dan jarak yang kira-kira sama.

Rich and Vibrant Color

Dalam urusan foto yang kaya warna dan hidup, apa yang dihasilkan camera smartphone rasanya masih kalah dengan apa yang bisa dilakukan oleh DSLR low end sekalipun. Biasanya kalau tidak under saturated ya over saturated.

Post Processing/Image Editing Sofware Onboard

Nah, untuk aplikasi olah foto ini di iOS dan Android sudah banyak sekali aplikasi pihak ketiga yang bagus. Sebut saja Autodesk Pixl Express, PicArt, Snapseed, VSCO Cam, Instagram, Camera 360 dan lain-lain. Processor yang lebih gegas, RAM yang lebih lega, GPU yang lebih tangkas dan storage yang lebih besar dan cepat akan sangat berarti bagi perkembangan dan kemudahan menggunakan aplikasi-aplikasi pemroses foto yang makin canggih ini.

Apa lagi … ?


TAGS smartphone best camera good camera smarphone


-

Author

Follow Me